Umar Abduh Mengungkapkan Kecurangan Pemilu Presiden 2014

Gambar Umar Abduh
ust. Umar Abduh
Pemilu Presiden 2014 ternyata penuh dengan kecurangan! Hal ini disampaikan oleh Umar Abduh pada sebuah diskusi. Luangkan sebentar untuk melihat video dibawah ini, dimana Bapak Umar Abduh memaparkan kecurangan yang terdapat pada pemilihan presiden kali ini.


Saya pikir pemilu presiden Republik Indonesia 2014 telah berakhir pada hari Selasa tanggal 22 Juli kemarin. Ternyata masih ada masalah yang ditinggalkan dan ternyata mempunyai efek luar biasa pada kehidupan berdemokrasi di Indonesia.

Mengenai kecurangan dalam demokrasi dan tidak netralnya lembaga termasuk personil penyelenggara di Komisi Pemilihan Umum tentunya sudah tidak asing lagi untuk sebagian dari masyarakat Indonesia. Istilah seperti serangan fajar adalah bentuk dari kecurangan dalam  pemilihan umum. Baik di pemilihan legislatif, maupun di pemilihan kepala daerah atau yang sekarang di pemilihan umum.

Dari video diatas saya menyimpulkan bahwa buruknya proses demokrasi yang terjadi di Indonesia adalah karena beberapa faktor pertama lembaga penyelenggara yang tidak netral, alat negara yang tidak netral, dan masih awamnya peserta pemilu terhadap proses pemilihan umum yang seharusnya.
Kemarin Calon Presiden nomor urut satu telah memberikan pernyataan bahwa dirinya dan partai koalisinya menarik diri dari proses yang sedang berlangsung. Pernyataan ini baik saya maupun orang banyak mengambil kesimpulan bahwa Capres nomor satu Bapak Prabowo Subianto telah mengundurkan diri dari pencalonannya sebagai peserta pemilihan umum. Tentu bagi orang awam seperti saya keputusan ini sangat mengagetkan karena prosesnya pun hampir selesai. Bagi pendukung capres nomor dua, sikap Bapak Prabowo dianggap kekanak-kanakan karena mengundurkan diri atau menolak proses pemilu setelah menyadari dirinya kalah.

Setelah saya melihat pemaparan dari Bapak Umar Abduh, saya menjadi memaklumi sikap yang diambil Bapak Prabowo dan koalisi Merah Putihnya. Bapak Prabowo telah menyampaikan bahwa ia siap menerima keputusan rakyat, artinya jika Bapak Joko Widodo menang ia akan mengakui kemenangan tersebut. Namun jika ternyata rakyat yang memilih Bapak Joko Widodo ternyata fiktif, tentunya sebagai seorang yang menjunjung tinggi sapta marga Bapak Prabowo berang. Ia dikalahkan oleh kecurangan yang massif dan manipulatif.

Kecurangan pada pemilu legislatif kali ini terlihat dari beberapa indikator yaitu penggelembungan suara calon tertentu, tidak diinformasikannya jumlah partisipan dan non partisipan pemilu calon presiden, dan juga ketidaknetralan aparat negara yang ternyata tidak mempunyai landasan hukum untuk melakukan pengawasan terhadap kekeliruan lembaga penyelenggaraan pemilu.

Pendukung capres nomor dua boleh tidak setuju dengan pendapat Bapak Umar Abduh ini tapi paling tidak jangan menutup mata dengan vulgarnya kecurangan yang terjadi di pilpres kali ini. Umar Abduh adalah seorang penulis dan kolumnis yang concern dengan pengawasan ABRI/TNI. Untuk lebih mengenal sosok beliau silahkan kunjungi blog beliau di http://umarabduh.blog.com/

Akhir kata semoga pemerintah, penyelengara pemilu dan juga capres dapat menerima keputusan rakyat Indonesia dalam waktu dekat. Capek juga kalau sesama teman atau saudara perang urat saraf membela jagoannya masing-masing.