Petir di Jumat Pagi

Jumat, pagi hariku yang mulai terasa membosankan dikejutkan oleh isak tangis bunda. Telah lama air matanya tidak turun. Namun, ketika ia datang maka persoalannya pastilah besar. Lontong yang menjadi sarapan hari itu pun akhirnya aku hiraukan. Bunda menangis, walaupun ia menahan luapan perasaannya dan membelakangiku tapi aku tahu. Tangannya tetap menggenggam hp nokia 1100, seseorang disana masih mencoba berbicara. Tapi ia terdiam, terisak, dan akhirnya aku melihat butiran-butiran air mata meluncur membasahi pipinya yang mulai keriput ketika ia memintaku untuk berbicara dengan lawan bicaranya di seberang sana.
"hm..."
"bang, dimana ayah?"
Suara itu terdengar lelah dan khawatir. Ternyata bunda dari tadi berbicara dengan adikku.
"Ayah belum pulang"
Hening. Seolah dengan segala kekuatan yang tertinggal dalam menahan kantuk ia mencoba untuk mencerna perkataanku.
"Bang jangan nyimpan rahasia lah"
Sekarang giliranku yang bingung. Aku nyimpan rahasia. Kenapa ia sampai pada kesimpulan begitu.
"Gak ada rahasia-rahasia an. Emang ada apa?"
Hening.
"Bagaimana keadaan di rumah bang?"
"Baik-baik aja kok"
"Ayah mana?"
"Belum pulang"
"Masak abang tidak tahu dimana ayah?" suaranya mulai terdengar tidak sabar, ada api yang siap membakar jiwanya. Aku menjadi bingung. Serius. Aku tidak tahu ayah kemana. Terakhir yang kulihat beliau pergi pagi-pagi sekali. Ia terburu-buru pergi dan dalam kondisi yang siap memuntahkan bara yang terendap di dadanya.
Dua hari yang lalu ayah pergi ke Lubuk Basung. Daerah ibukota pemerintahan daerah Kabupaten Agam. Ia sering bolak-balik kesana. Namun ia tidak pernah secara jelas mengatakan keperluan beliau disana. Ketika ditanya ia menjawab dengan suara seperti letusan senapan "Aku mencari nafkah untuk kalian!!" Kalau sudah seperti itu aku tidak akan mau untuk bertanya kepadanya. Emang enak dimarahi tanpa sebab jelas? Namun pagi ini ia tidak pulang. Aku berpikir mungkin ia menginap di rumah temannya di sana. Ia sering melakukan itu ketika terlambat pulang. Aku menceritakan itu semua pada adiku. Itu yang aku tahu.
"Ayah ada masalah apa bang?"
"Aku tidak tahu."
Ya Allah, aku jadi berpikir bahwa adiku betul-betul tidak mempercayaiku. Bahkan dalam pikiran terburukku, ia berpikir aku orang yang tidak memperhatikan keadaan keluarga.
Aku kembali mengulangi kisah yang aku lalui bersama ayah, namun sekarang lebih detail lagi.
"Pis, ayah akhir-akhir ini sering marah-marah. Kau tahu sendiri kalau ia sudah begitu maka tak mungkin lagi aku bertanya. Ia pernah pulang larut malam dan menggedor pintu depan. Mungkin tidak lagi menggedor tapi sudah memukul-mukul pintu itu. Aku tidak ingat jam berapa. Hanya saja aku terbangun karenanya, dan dengan kebingungan aku bukakan pintu untuknya. Aku tidak bertanya seingatku. Kau ingat di dalam mobil ayah mempunyai sebuah kunci duplikat. Seharusnya ia tidak perlu menggedor kan? Ia hanya perlu untuk menggunakan kunci itu."
"Paginya seperti yang aku ceritakan tadi ayah pergi dengan terburu-buru. Saking tergesanya ia tidak mau mandi. Ketika Rozi mengatakan 'Yah rozi bareng sama ayah saja', ayah langsung berkata dengan ketus 'Aku sedang terburu-buru, pergi saja dengan angkutan umum!' Dan pagi itu dengan sebuah jaket jeans kusam, dan celana katun yang kemarin, ia pergi ke Lubuk Basung."
Hening...
Lalu aku balik bertanya kepadanya, "sekarang beritahu abang apa kabar ayah yang kamu ketahui". Dengan malas ia menceritakan bahwa di pagi hari ketika ia merebahkan badannya yang lelah setelah bergadang karena harus kerja paruh waktu di salah satu warnet di Padang, handphonenya berbunyi. Dengan malas ia mengangkat. Di seberang sana temannya menanyakan keadaan ayah. Pikirannya mulai terganggu. Teman yang menelpon pagi itu tidak biasanya menelpon menanyakan kabar ayah kami. Setelah ia tanya kenapa temannya tersebut menanyakan ayah, temannya tersebut menjawab bahwa surat kabar daerah hari jumat itu mengeluarkan sebuah berita tentang penangkapan kasus korupsi dan nama ayah kami termasuk didalamnya.
Mendengar hal ini hatiku menjadi bertambah gundah. Sedang Bunda yang duduk dihadapanku terisak menahan tangis. Akhirnya aku katakan pada adikku itu "Ya sudah kau pasti sudah terlalu lelah. Tidurlah. Kalau apa yang dikatakan temanmu tersebut benar adanya, maka bersabarlah. Abang akan mencoba mencari tahu. Assalammualaikum"
"waalaikumsalam" jawabnya lemah disana.

Setelah menghabiskan lontong pagi itu dengan sedikit memaksakan diri, aku berpamitan kepada bunda. Api di tubuhku membesar. Setelah percakapan telpon dengan adikku itu bunda menceritakan kejadian yang menimpa ayah sekarang. Ayah mempunyai sebuah perusahaan berbentuk CV. Dalam beberapa tahun ini perusahaan tersebut sulit mendapatkan pekerjaan. Biasanya proyek-proyek pemerintah yang ayah kerjakan. Mulai dari membangun gedung instansi, membangun atau memperbaiki irigasi, membuat atau memperbaiki jalan.