akhirnya

Alhamdulilah sebuah keinginan dari dulu kesampaian juga.

Udah mengenal Salim A.Fillah? Kalo belum saya mencoba untuk memberikan sebuah introduksi tentang beliau. Maaf kalau ada yang kurang atao yang kelebihan.

Saya mengenal Salim dari bukunya yang pertama saya baca yaitu Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan dan Gue Never Die!. Buku pertama Salim yang saya kenal adalah Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan itupun karena tidak sengaja. Beginilah ceritanya.
Waktu itu saya sama sekali tidak "ngeh" dengan buku yang bertema percintaan, apalagi yang gaul dan syar'i. Buku-buku keislaman yang saya baca hanya buku-buku tentang pemikiran dan pergerakan Islam. Hanya saja teman saya waktu itu menyadari kecenderungan saya yang menyukai lawan jenis mulai tak mampu lagi untuk ditahan. Ia mengajak saya untuk mengikuti sebuah acara bedah buku yang diadakan Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam kampus. Mulanya sih "ogah" karena sebagai seorang mahasiswa (waktu itu) uangnya cekak bangedh. Keputusan saya akhirnya berubah setelah diberitahu acaranya gratis. Barulah saya dengan semangat '45 berangkat bersama beliau. Terima kasih buat akh THoriQ a.k.a Fertuna Anastika Putra yang mengajak. Semoga ente diperlancar rencana walimahannya ya....

Jadi kemana-mana...
Saya berangkat ke tempat berlangsungnya acara bedah buku Salim yang pertama saya kenal itu dengan menggunakan baju loreng yang ngepress abis tubuh tambun saya. Sedangkan Thoriq waktu itu memakai baju lengan panjang, saya lupa apakah coraknya kotak-kotak ato polos habis kejadiannya dah lama juga seh..., setelan yang anak ngaji banget. Untuk bawahannya apa? hehehehe.. maaf saya lupa. Akan tetapi walaupun berbeda seragam kami mempunyai kesamaan waktu itu. Sama-sama pake sandal jepit. Dalam perjalanan menuju tempat acara saya sempat bertanyakan kepada Thoriq "kok gak keliatan iklannya tun?"
"ente aja yang kagak liat, banyak kok" dan saya mengangguk saja. mungkin saja karena sifat yang terlalu cuek dengan lingkungan menyebabkan saya jadi kurang peka terhadap penawaran yang bagus seperti ini.

Singkat cerita kami sampai ke tempat acara, Ya Allah ampun.. nama mesjidnya lupa! Parah banget ya saya. Udah lanjut aja. Acara belum dimulai waktu itu. Dan setelah sedikit berbasa-basi dengan panitia kami memilih tempat duduk di depan pemateri. Harap diingat bukan karena semangat ya, tapi karena pesertanya, wa bil khusus ikhwah emang dikit, kurang. Saya merasa risih melihat pakaian saya dan teman-teman yang lain. Malu ding.. satu-satunya baju yang ngepress. Kalo badannya berotot sih gak papa nih malah buncit kayak cacingan. Tobat dah pake baju adek tu.

Acara dimulai dengan membaca kalam ilahi lalu dilanjutkan sambutan ketua panitia yang ternyata senior Rohis jurusan sendiri. Acara ini agak berbeda dengan acara bedah buku yang pernah saya baca di internet ato di media. Si penulis bukanlah orang yang menjadi narasumber. Namun seorang ustadz yang lagi-lagi saya melupakan nama beliau. Otak dah karatan kali ya...sedih nya.

Si ustadz memulai pembedahan atas buku tersebut dengan menyatakan kesalutannya terhadap penulis. Karena ia telah menerbitkan buku sewaktu ia kuliah. Apalagi buku yang ia tuliskan itu mengambil tema pernikahan. Sebuah tema yang menurut beliau waktu itu tidak akan terpikirkan oleh mahasiswa pada umumnya. Karena pacaran menjadi sebuah solusi bagi keinginan mereka yang mulai tidak kerasan dengan kesendiriannya.

Setelah ustadz tersebut memaparkan semua yang ia serap dari buku karangan Salim tersebut maka diadakanlah sesi tanya jawab. Dan tentu saja berhubungan semua yang hadir aktivis kampus maka pertanyaannya yang paling banyak berputar pada bagaimana meyakinkan orang tua, bagaimana memenuhi kebutuhan hidup, dan sebangsanya. Kalo menurut ustadz sih yang hadir acara waktu itu kayaknya udah siap walimahan/menikah. Dan itu lah awal saya jadi pengen membaca buku Salim tentang pernikahan tersebut. Saya gak puas hanya di berikan paparan oleh sang ustadz. Dan itu merupakan sebuah naluri alamiah manusia.

Dengan sedikit pelit pada diri sendiri akhirnya buku itu terbeli juga. Saya membacanya dengan sebuah ekspetasi yang saya sendiri merasa heran. Ketika membaca buku tersebut saya tidak menginginkan orang lain untuk mengganggu. Bahkan saya sempat kesal oleh teman sekamar yang menurut saya waktu itu begitu rese'. Buku itu habis dilalap setelah dua hari.

istirahat dulu ya...insyaallah disambung lagi besok