Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2008

Ini Ujian atau Azab?

Hari ini gue menjadi gamang. Hati menjadi gemetar. Lutut tak kuasa menahan tubuh. Keadaan ini disebabkan oleh fitrah gue sebagai cowok yang mulai muak menjadi jomblo.

Cinta. Entah sejak kapan gue terobsesi dengan perasaan ini. Gue selalu mencari dan mencari cinta. Kebanyakan orang mengatakan cinta sulit didefinisikan, tapi tidak bagi Ibnu Qayyim Al-Jauzi. Dari beliau gue mengenal arti cinta sebenarnya. Beliau mengatakan bahwa cinta adalah perasaan seorang yang meliputi takut, harap, kasih, sayang, benci, suka yang saling bercampur terhadap yang ia cintai. Cinta memiliki takut karena orang yang mencintai takut kehilangan objek yang ia cintai, ia memiliki objek yang dicintai tersebut menghilang dari hadapannya. Cinta memiliki harap, karena si-pecinta mengharapkan balasan cintanya terhadap objek cintanya. Cinta memiliki kasih yang dengannya sipecinta berkorban apasaja dan bahkan melakukan hal yang berada diluar kemampuannya agar objek yang dicinta ridha padanya. Gue gak tahu bagaimana dal…

Suara Hati Pekerja Jakarta

Maaf kali ini saya tidak akan berbicara mengenai sastra inggris.Jakarta kali ini telah membuktikan bahwa ia perlu sebuah perubahan besar-besaran. Hari ini saya harus menempuh waktu tiga jam lebih untuk ke kantor. Melelahkan.Beberapa kali juga saya harus mematikan mesin motor ditengah kemacetan untuk menjaga bensin yang akhirnya saya harus mengisinya dengan shell. Kantor saya berada di Jakarta Selatan dan saya tinggal saat ini di daerah pinggirannya. Dalam waktu normal (maksud saya tanpa hujan) jarak tempuh saya ke kantor hanya sekitar 30 menit atau kalau memang macet sangat parah hanya satu jam.Hujan menjadi kambing hitam kejadian hari ini. Tapi saya berpikir bukankah setiap tahun banjir melanda? Tidak adakah sebuah tindakan pasti dari penguasa Jakarta? Sumur-sumur resapan yang diharapkan mengurangi genangan air malah seperti tidak berfungsi. Padahal anggaran untuk sumur-sumur resapan di Jakarta tidak main-main jumlahnya.Saya mengambil keputusan untuk hijrah dari ibukota ini. Banjir d…

Proses Hidup

Huah...
Ngantuk banget rasanya. Badan ingin istirahat keknya, padahal jam di dinding baru menunjukkan pukul 14.30 waktu Padang Luar (Kek ospek aja ngasih waktu sekehendak hati). Mungkin bukan badan yang lelah secara sebagai seorang operator warnet (gile operator, kuli kalee...) dari jam delapan pagi tadi hingga saat ini mata gue selalu melototin monitor komputer. Mungkin kantuk yang gue rasa karena radiasi komputer. Kan banyak yang bilang tuh radiasi komputer berbahaya buat kesehatan mata.

Menjadi operator warnet sebenarnya mudah-mudah susah. Inget banyak mudahnya daripada susahnya. Kita tinggal duduk manis di depan komputer sembari melakukan pekerjaan yang kita inginkan. Main game boleh, browsing apalagi, mau nulis yo-i banget. Kalo ada user yang minta print, tinggal cari aja koneksi LAN printer trus suruh si user ngeprint sendiri. Santai kan? Yang menjadi masalah sebagai operator hanya problem koneksi yang kadang putus gak ketauan sebabnya. Ato komputer hang sedangkan si user belon ny…

Bergerak ke depan

Kini aku mengerti kenapa bunda memintaku untuk mempertimbangkan kembali keinginanku untuk menikah. Aku berharap tidak seperti ayah.... Matahari telah beranjak tinggi saat aku masih terlelap dalam kedamaian mimpi. Sinarnya yang menyemangati bumi untuk hidup dihambat oleh dinding kamarku yang lembab dan kelam. Udara dingin kaki merapi dan fakta terisolirnya kamarku dari sinar mentari merupakan kondisi yang amat sesuai untuk setiap diri yang letih ini tetap bermanja dalam pelukan kasih selimutnya. Secercah sinar yang berhasil melewati blokade kamar yang lembab itu tak mampu untuk membangkitkan kesadaranku bahwa makhluk telah berlomba mencari rezeki.Aku heran kenapa tidak ada hantaman yang biasa ku terima ketika subuh telah datang. Biasanya bunda yang selalu membangunkan aku kalau diri ini terlalu terlena dalam pelukan hangat selimut. Entah aku sadar ato tidak tapi aku ingat bunda masuk ke kamar dan menanyakan letak buku tabunganku. Apakah itu mimpi atau kenyataan? Saat aku akhirnya mend…

Bergerak ke depan

Kini aku mengerti kenapa bunda memintaku untuk mempertimbangkan kembali keinginanku untuk menikah. Aku berharap tidak seperti ayah.... Matahari telah beranjak tinggi saat aku masih terlelap dalam kedamaian mimpi. Sinarnya yang menyemangati bumi untuk hidup dihambat oleh dinding kamarku yang lembab dan kelam. Udara dingin kaki merapi dan fakta terisolirnya kamarku dari sinar mentari merupakan kondisi yang amat sesuai untuk setiap diri yang letih ini tetap bermanja dalam pelukan kasih selimutnya. Secercah sinar yang berhasil melewati blokade kamar yang lembab itu tak mampu untuk membangkitkan kesadaranku bahwa makhluk telah berlomba mencari rezeki.Aku heran kenapa tidak ada hantaman yang biasa ku terima ketika subuh telah datang. Biasanya bunda yang selalu membangunkan aku kalau diri ini terlalu terlena dalam pelukan hangat selimut. Entah aku sadar ato tidak tapi aku ingat bunda masuk ke kamar dan menanyakan letak buku tabunganku. Apakah itu mimpi atau kenyataan? Saat aku akhirnya mend…